Setelah Pilpres selesai teror bom menerpa, dengan cepat presiden memberikan konfirmasi yang mengkaitkan teror ini dengan pilpres dan adanya pendudukan KPU serta pergerakan masa besar-besaran ini jika teliti secara seksama jangan langsung memvonis atau men-judge bahwa presiden telah menakut-nakuti rakyat, oleh karena itu kita sebagai rakyat yang bijak dan diberikan akal pikiran tentu harus berfikir dengan posotif dan tidak mudah diprovokasi dan diadu-domba yang bisa memecahkan persatuan kita harus menentukan bahwa kita itu rakyat yang pintar dan tidak bisa dibohongi dengan hal-hal yang memecahkan NKRI.
Tiga hari yang diberikan KPU untuk menggugat dan juga mengajukan keberatan atas hasil Pilpres, hendaknya perlu kita hormati karena Demokrasi di Indonesia dan dimana-mana itu mempunyai aturan mainnya jangan sampai disalah gunakan. KPU juga harus bisa mempertanggungjawabkan atas hasil yang telah dikeluarkan jangan takut karena tekanan asal kita benar pasti akan menang karena kebenaran itu hal yang sanggat arief dan juga patut dipertaruhkan nilainya. Setelah waktu yang ditentukan hendaknya KPU memutuskan pemenangnya secara sah dan jangan taku dengan tekanan yang datang dari kiri-kanan ataupun dari pihak-pihak tertentu yang bisa memecahkan semuannya.
- Setuju Pilpres Diulang
- Tidak Setuju Pilpres Diulang
- Ragu-ragu Pilpres Diulang
Dari sekian banyak peserta survey tidak sedikit yang memberikan saran ataupun komentar terkait dari survey prihal pelaksanaan pilpres yang diulang diantaranya: Rakyat sudah merasa bosan dan jenuh dengan Pemilu yang terus menerus, mulai dari pilkada, pilgub, pileg, pilpres dll. Satu putaran juga sudah cukup dan membuktikan bahwa yang menang adalah pasangan No. 2. Daripada pilpres ulang mending uangnya diberikan rakyat miskin yang sangat emmbutuhkan daripada pelaksanaan pilpres lagi. Siapapun yang jadi presidennya belum tentu bisa menrubah nasibnya dan memberikah nasib yang lebih baik, katanya sekolah gratis tapi nyatanya masih bayar juga dan sekolah hanya untuk orang yang mampu sedangkan yang miskin tetap saja miskin dan tak mampu sekolah. Rakyat sudah tidak mau dibohongi dengan janji-janji yang diberikan oleh karena itu rakyat hanya membutuhkan janji bukan bukti. Pasangan yang kalah seharusnya bisa menerima kekalahannya dengan legowo. Itulah rata-rata komentar yang kami himpun, pelaksanaan survey ini murni bukan karena tekanan atau perintah baik dari orang-orang yang memihak salah satu Capres dan Cawapres tapi murni karena suara rakyat disini kami hanya memfasilitasi atas suara mereka. Survey ini juga dibuat untuk mengukur serta apa yang diinginkan oleh rakyat, baik itu Pilpres satu atau dua putaran.Dari hasil survey ini 80 % dari para peserta survey memilih tidak setuju pilpres diulang. Bisa dikatakan bahwa pasangan No. 2 itu sudah pasti memenagkan hanya tinggal menunggu proses hukum yang berlaku. Sebagian peserta survey juga menyayangkan akan proses yang terlalu lama dan masih ketinggalan jaman, kita bandingkan dengan Amerika yang bisa memutuskan dan juga menetapkan hasil pilpres dengan cepat dan akurat serta dapat diperganggung jawabkan, tapi itu merupakan hal yang wajar maklum kita ini masih dibawah Amerika.
Demikian hasik survey ini dibuat dan disebarluaskan untuk umum, untuk kekurangan serta kesalahan yang terdapat di Pilpres dan Pemilu kali ini dapat dijadikan pelajaran oleh semua pihak yang terkait sehingga kedepannya bisa menjadi lebih baik lagi dan bisa sesuai dengan keinginan kita bersama yaitu Pemilu yang Luber (Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia) dan Jurdil (Jujur dan Adil).
